Direktur Portfolio dan Utang Kementerian Keuangan, Scenaider Siahaan mengatakan guna menutupi defisit tersebut pemerintah akan menarik pinjaman baik bilateral dan multilateral yang diyakini lebih murah ketimbang pasar sekunder.
"Kami akan tarik pinjaman dari World Bank US$2 miliar dari komitmen baru. Asian Development Bank (ADB) bisa dikontak dan siap menyediakan US$750 juta sampai US$1 miliar, lalu pinjaman program lainnya sekitar US$ 1,2 miliar," ujar Scenaider saat ditemui di gedung DPR, Jakarta, Kamis (28/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi sampai 7 Oktober 2015, Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) baru mengantongi pendapatan sebesar Rp 1.004,1 triliun. Angka tersebut baru memenuhi 56,99 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 yang menitahkan pendapatan sebesar Rp 1.761,64 triliun.
Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Askolani menjelaskan, dengan realisasi belanja sebesar 64 persen atau setara dengan Rp 1.269,8 triliun maka defisit anggaran yang terjadi saat ini sekitar 2,3 persen dari produk domestik bruto (PDB).