Direktur Keuangan Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo mengatakan kelima anak usahanya hanya perlu menambah Rp 580 miliar lagi di isa tiga bulan terakhir jika ingin mencapai target.
"Kami lihat kinerja anak perusahaan sekarang sudah mulai membaik. Kami harapkan, kontribusi anak-anak usaha ini bisa sebesar 10 persen lebih pada pendapatan kami di akhir tahun," jelas Kartika di Jakarta, Kamis (29/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kartika menambahkan, optimisme tersebut juga mempertimbangkan potensi tambahan pendapatan anak usaha setelah pada bulan ini perseroan mengakuisisi 80 persen saham PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia, dan mengubah namanya menjadi PT Mandiri InHealth. Hingga September 2015 yang lalu saja, pendapatan premi Mandiri InHealth sudah mencapai Rp 1,14 triliun.
Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin menambahkan, perseroan juga akan meningkatkan kinerja pendapatan berbasis komisi (fee-based income) sampai akhir tahun ini. Pasalnya, dengan kondisi ekonomi yang tak menentu, fee-based income dianggap mudah diperoleh dengan risiko yang juga lebih sedikit.
"Kondisi ekonomi seperti ini, fee based income lebih bermanfaat daripada cari non persuaded asset," jelasnya.
Kendati demikian, Budi memperkirakan fee-based income kuartal IV tak akan sebesar raihan kuartal III. Pasalnya, Bank Mandiri sempat mendapat keuntungan dari adanya pengetatan likuiditas pada bulan September dan Oktober.
Pada periode itu, jelasnya, Bank Mandiri banyak melakukan transaksi swap atas Dolar AS kepada bank-bank asing mengingat bank-bank itu kekurangan stok Rupiah akibat ketatnya likuiditas yang dilakukan oleh otoritas moneter.
Akibat hal itu, perusahaan mendapatkan tambahan penerimaan valuta asing sebesar Rp 60 miliar quarter-to-quarter (qtq), dari Rp 473 miliar di kuartal II ke Rp 533 miliar pada kuartal III. Angka penerimaan pada kuartal III tersebut mengambil porsi 10,41 persen dari total fee-based income sebesar Rp 5,12 triliun.
"Fee-based income tumbuh tinggi karena kita melakukan transaksi swap pada kuartal III lalu. Kedepannya bagaimana, kami belum Tahu. Tergantung market. Jika faktor likuiditas dan volatilitas mata uang masih mendukung, kita bisa dapat fee based income yang lebih besar," terangnya.
Hingga kuartal III, fee-based income perusahaan juga paling besar disumbang dari biaya administrasi sebesar Rp 805 triliun, transaksi ritel sebesar Rp 480 miliar, dan kartu kredit sebesar Rp 386 miliar.