Pasalnya kerusakan turbin PLTP Unit I Kamojang yang terjadi sejak April 2014, telah membuat PGE Area Kamojang menghentikan aktivitas produksi (shutdown) sumur I. Shutdown tersebut membuat perusahaan kehilangan pendapatan dari penjualan uap panas bumi sebesar US$ 14 juta atau Rp 196 miliar per tahun.
"Jika dihitung antara potensi uap yang dihasilkan dari unit I dan harga jual uapnya, diperkirakan potential lost sebesar US$ 14 juta per tahun," ujar Wawan Darmawan, General Manager PGE Area Kamojang, Minggu (1/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan dari lima unit pembangkit listrik di area Kamojang dengan total daya listrik yang dihasilkan sebesar 230 MW, Unit I hingga III dikelola Indonesia Power. Pada ketiga unit tersebut, PGE hanya memasok dan menjual uap panas bumi kepada Indonesia Power yang memiliki pembangkit dengan harga US$ 6,2 sen.
Dengan hanya menjual uap, tanggung jawab PGE hanyalah memastikan pasokan uap untuk menggerakkan turbin PLTP tidak terganggu.
“Saat ini, uap dari unit I dimatikan. Jika memang sudah dilakukan perbaikan, tinggal dihidupkan lagi. Salah satu keunggulan karakteristik panas bumi dari Kamojang adalah menghasilkan 99 persen uap yang tidak membutuhkan treatment tertentu, tinggal dihidupkan begitu saja, sudah bisa berjalan seperti sedia kala,” kata Wawan. (gen)