“Investor yang tertarik menanamkan investasi termasuk dari beberapa negara seperti Norwegia dan China. Sebagian tertarik berinvestasi di budidaya tambak terintegrasi, juga pada budidaya laut atau marikultur”, kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto di laman KKP, dikutip Senin (9/11).
Tingginya nilai investasi di sektor perikanan budidaya membuat Slamet meyakini target produksi perikanan budidaya tahun ini bisa menembus target 17,9 juta ton. Lebih tinggi 23,27 persen dibandingkan hasil produksi 2014 sebesar 14,52 juta ton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Slamet menyebut potensi pengembangan perikanan budidaya di Indonesia masih terbuka luas.
Terbukanya lahan bagi investor domestik maupun asing di sektor produksi perikanan budidaya, tak ayal adalah upaya pemerintah, untuk menciptakan iklim produksi perikanan budidaya yang mandiri dan berkelanjutan. Sehingga diharapkan mampu menggerakkan perekonomian daerah dan nasional, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menyerap tenaga kerja bagi usaha perikanan budidaya.
Sebelumnya, Menteri KKP Susi Pudjiastuti mengaku telah menganggarkan dana Rp 400 miliar untuk membantu pengembangan industri perikanan budidaya di tahun ini.
"Dengan dana APBNP ini KKP siap mendukung kegiatan budidaya perikanan di Indonesia," katanya.
Susi sendiri berharap, dengan tambahan anggaran tersebut perikanan budidaya bisa menghasilkan jumlah produksi yang sama dengan hasil produksi perikanan tangkap. Dia menargetkan setiap tahun, eksploitasi ikan di laut berkurang 10 persen setiap tahunnya demikian juga peningkatan produksi ikan budidaya.
"Saya ingin perikanan budidaya ini mengurangi kegiatan eksploitasi laut, diganti dengan budidaya. Entah budidaya laut atau darat," kata Susi.