Sekretaris Perusahaan Jababeka Muljadi Suganda mengatakan sebenarnya perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 2,28 triliun per 30 September 2015, atau meningkat sebesar 11 persen dari periode yang sama di 2014.
“Pertumbuhan pendapatan berasal dari kinerja bisnis infrastruktur, yang tumbuh sebesar 17 persen tahun-per-tahun (year on year/yoy),” jelasnya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (10/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pendapatan berulang/recurring revenue yang diperoleh Jababeka dari jasa layanan yang berhubungan dengan infrastruktur (pembangkit listrik, air, dan dry port) berkontribusi sebesar 62 persen terhadap total pendapatan konsolidasi perseroan selama periode 9 bulan di 2015, dibandingkan 58 persen pada periode yang sama pada 2014,” jelasnya.
“Meski memberikan pendapatan stabil dan arus kas yang terukur bagi Perseroan, pendapatan dari bisnis infrastruktur mempunyai margin laba kotor yang lebih rendah dibandingkan bisnis real estat/land development,” kata Muljadi.
“Rugi selisih kurs tersebut adalah jumlah selisih bersih dari laba selisih kurs aktivitas operasi perusahaan dan laba nilai pasar atas kontrak lindung nilai terhadap rugi selisih kurs akibat revaluasi atas aktivitas pendanaan (pinjaman dalam mata uang dolar) sebesar Rp 593 miliar,” ungkapnya.
Saat ini, lanjut Muljadi, Jababeka telah melakukan lindung nilai berupa call spread (opsi beli sebaran) sebesar US$ 200 juta dengan rata-rata rate bawah sebesar Rp 13.014 dan rata rata spread Rp 1.950 setara dengan rata-rata atas sebesar Rp 14.964.
“Sebagai gambaran, sampai dengan September 2015 rupiah telah terdepresiasi sebesar 20 persen, dan upaya lindung nilai ini telah terbukti mengurangi efek dari fluktuasi mata uang sampai dengan batas tertentu,” jelasnya. (gen)