Ia merujuk pada pertumbuhan ekonomi yang meningkat pada dari 4,67 persen di kuartal II menjadi 4,73 persen pada kuartal berikutnya. Indikator lainnya adalah terjaganya inflasi pada level yang rendah sesuai dengan estimasi BI 4 plus minus 1 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahkan BI Rate belum turun, sudah banyak yang memakirkan uangnya di luar negeri. Capital outflow itu kan juga ada faktor confident di dalamnya," ujarnya.
"Pasalnya kalau bunga bank menurun, cost of operation menurun, maka akan menjadi insentif bagi sektor riil untuk lebih giat lagi. Jadi harus ada keseimbangan menyangkut rate yang tepat apa, tapi kalau BI menurunkan suku bunga sedikit saja itu akan mengirimkan sinyal positif bagi dunia usaha," tuturnya.
Dia menambahkan, dunia usaha sebenarnya sudah menanti-nanti penurunan BI Rate ini sejak lama. "Kalau dari dunia usaha sih inginnya sejak tahun lalu BI Rate turun, tapi kan BI punya pertimbangan lain yang lebih makro," tuturnya.
BI Rate terakhir kali turun pada Februari lalu, di mana Bank Indonesia memangkas sebesar 25 basis poin dari 7,75 persen menjadi 7,5 persen. Selain itu, BI juga menurunkan suku bunga fasilitas deposito sebesar 25 basis poin dari 5,75 persen menjadi 5,5 persen. Keputusan BI tersebut diambil setelah adanya deflasi sebesar 0,24 persen pada Januari 2015. (ags/gen)