“Kami yakin perubahaan ‘split’ akan menguntungkan. Kegiatan eksplorasi akan meningkat dan pada akhirnya produksi juga akan naik,” kata Ketua KEN Andang Bachtiar seperti dikutip ANTARA, pada Minggu (22/11).
Pemerintah Indonesia saat ini tengah mengkaji porsi bagi hasil atau ‘split’p produksi di lapangan migas yang belum berproduksi atau masih melakukan kegiatan eksplorasi. Langkah ini diambil sebagai insentif bagi kontraktor kontrak kerja sama, KKS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andang yang juga anggota Dewan Energi Nasional, DEN, mengatakan besaran peningkatan porsi bagi hasil untuk kontraktor akan disesuaikan dengan kondisi wilayah kerja.
KEN telah mengidentifikasi potensi tambahan cadangan migas nasional sebesar 5,2 miliar barel setara minyak yang terdiri dari 2,7 miliar barel minyak dan 14 triliun kaki kubik gas, dari 108 fasilitas migas.
Di luar fasilitas ini, terdapat potensi 16,6 miliar setara minyak di 120 fasilitas yang belum dilakukan pengujian.
Kontraktor KKS tidak memperioritaskan pengembangan fasilitas-fasilitas ini, padahal KEN memandang jika masalah yang dihadapi oleh kontraktor KKS bisa diatasi, dalam 1-4 tahun akan ditemukan cadangan migas baru di wilayah tersebut. (antara/yns)