Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Suhaedi mengungkapkan peningkatan jumlah temuan tersebut tidak mencerminkan jumlah uang palsu yang beredar di masyarakat. Ia menyebut, peningkatan itu justru mencerminkan peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat terkait ciri-ciri keaslian rupiah.
“Ini adalah jumlah yang dilaporkan oleh masyarakat dan ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum. Jadi tidak mencerminkan jumlah uang palsu yang beredar di Indonesia lebih banyak atau tidak,” tutur Suhaedi kala ditemui di Gedung Thamrin Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Senin (23/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pecahan temuan uang palsu hingga Oktober 2015 paling banyak adalah pecahan Rp 100 ribu yang mencapai 202.376 lembar diikuti pecahan Rp 50 ribu sebanyak 59.848 lembar dan pecahan Rp 20 ribu sebanyak 7.065 lembar.
Dari sisi geografis, uang palsu yang beredar sebagian besar ditemukan di Pulau Jawa. Adapun temuan terbanyak hingga Oktober 2015 berasal dari Provinsi Jawa Timur sebanyak 148.904 lembar, diikuti provinsi DKI Jakarta dengan temuan uang palsu sebanyak 49.326 lembar.
“Ke depan, Bank Indonesia di samping terus mempererat kerjasama dengan aparat penegak hukum kita juga akan meningkatkan edukasi dan sosialisasi untuk seluruh segmen masyarakat, mulai dari anak sekolah hingga ibu rumah tangga mengenai ciri-ciri keaslian rupiah,” ujarnya. (gen)