Proyek pengembangan kapasitas kilang yang lebih dikenal dengan sebutan Refinery Development Master Plan (RDMP) akan dimulai usai kedua perusahaan meneken kesepakatan kerjasama pada awal 2016 mendatang.
Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi mengatakan awalnya manajemen Pertamina berharap penandatanganan kesepakatan bisa dilakukan pada akhir tahun ini. Namun, JX Nippon menginginkan waktu lebih lama karena masih ada beberapa kajian yang perlu diselesaikan perusahaan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan adanya RDMP Balikpapan dan Cilacap, kami harap kapasitas kami bisa mencapai 1,42 juta bph pada 2021. Sehabis ini kami ada dua RDMP lagi di Balongan dan Dumai, mungkin menyusul sehabis ini," ujarnya.
Untuk pelaksanaan RDMP Cilacap, manajemen Pertamina telah membuat kesepakatan untuk membentuk perusahaan patungan bersama Saudi Aramco dengan nilai US$ 5,5 miliar yang penandatanganannya akan dilaksanakan pada 26 November mendatang. Pertamina sendiri memiliki porsi kepemilikan 55 hingga 60 persen di dalam perusahaan patungan tersebut.
Saat ini, Pertamina memiliki enam buah kilang yang tersebar di Dumai, Balongan, Cilacap, Plaju, Balikpapan, dan Sorong. Rachmad mengatakan kalau Pertamina akan membangun satu kilang baru lagi di Tuban, di mana mitra konstruksi kilang sudah ada pada kuartal I tahun depan berbentuk joint venture dengan kepemilikan minimal 51 persen bagi Pertamina. (gen)