Agus mengungkapkan risiko pertama terkait prospek pertumbuhan ekonomi global yang meskipun diperkirakan akan membaik menjadi 3,5 persen, namun ada risiko proyeksi tersebut lebih rendah.
Kedua, ia menyebut gejolak di pasar keuangan global sebagai dampak dari antisipasi pasar terhadap rencana penaikan suku bunga di Amerika Serikat dan melambatnya ekonomi China yang akan menekan pasar keuangan domestik. Hal ini terutama ditandai dengan berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Risiko koreksi ini terutama apabila pemulihan ekonomi China dan negara berkembang lain tidak sesuai harapan. Kekhawatiran ini cukup beralasan karena hingga kini geliat ekonomi China dirasakan masih belum cukup kuat," ujar Agus dalam sambutannya di acara Bankers Dinner di Jakarta Convention Center Senayan, Selasa (24/11).
"Kondisi ini berisiko membawa pertumbuhan ekonomi China memasuki era new normal, yaitu era pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dibanding yang ditorehkan dalam satu dasawarsa terakhir," ungkapnya.
Risiko ketiga, lanjut Agus, terkait penurunan harga komoditas yang diperkirakan masih berlanjut pada 2016 sejalan dengan berakhirnya super-cycle harga komoditas. Menurutnya, perkembangan ini perlu terus disikapi karena dapat semakin menurunkan ekspor Indonesia.
"Ini juga akan menghambat pemulihan ekonomi apabila kita tidak dapat melepaskan diri dari ketergantungan pada ekspor berbasis sumber daya alam," terangnya.
Selain ketiga risiko tersebut, ia juga menyebut Indonesia perlu mencermati dinamika global lain, termasuk konstelasi kebijakan ekonomi global yang menjurus pada upaya meningkatkan daya saing melalui mata uang atau currency war.
"Karena, pengalaman kita di 2015 seperti saat China tiba-tiba mendevaluasi mata uang yuan tanpa diperkirakan sebelumnya," ujar Mantan Menteri Keuangan tersebut. (gen)