Pada perdagangan kemarin, saham Freeport-McMoRan (FCX) memang rebound sebesar 3,75 persen ke level US$ 8,3 per lembar. Namun, jika dirunut sejak awal tahun (year to date), saham perusahaan tambang emas terbesar di dunia itu telah amblas 64,23 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pertama, harga komoditas memang sedang buruk. Hal itu yang membuat harga saham Freeport-McMoRan turun secara year to date. Menurut saya, pada tahun depan harga emas masih akan lesu,” ujarnya kepada CNN Indonesia, Selasa (24/11).
“Yang kedua adalah karena adanya ketidakpastian dari perpanjangan kontrak, dan ketidakjelasan divestasi saham kepada pemerintah,” jelasnya.
Terkait divestasi saham Freeport Indonesia, David menilai semua skema memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika divestasi berlangsung tanpa melalui pasar modal, lanjutnya, memang bisa dimungkinkan pengaturan ketat terkait pembelinya.
“Jika misalnya IPO (initial public offering atau penawaran saham perdana) maka bisa lebih transparan dan sesuai GCG (good corporate governance). Tapi misalnya akan ada BUMN yang menyerap, harus yang kompeten baik secara bisnis maupun keuangan,” katanya.
Ia menjelaskan, jika misalnya nanti PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam ditunjuk sebagai salah satu penyerap saham Freeport Indonesia, maka untuk saat ini hal itu hanya bisa dilakukan melalui penawaran saham baru (rights issue). Padahal, Antam baru saja menggelar rights issue demi membangun smelter.
“Lalu kasihan juga investornya nanti. Kalau misalnya Antam rights issue lagi, bisa terdilusi banyak sekali dong sahamnya,” ujar David.
Di sisi lain, Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan bahwa masyarakat pasar modal tidak perlu khawatir jika nantinya Freeport Indonesia jadi melantai di bursa. Pasalnya, ia menilai kapitalisasi Freeport masih di bawah PT HM Sampoerna Tbk.
“Freeport tidak akan lebih besar dari Sampoerna. Jadi ya tenang saja. Ini cuma masalah politik terkait kejelasan kontrak karya dan divestasi,” jelasnya.
Satrio menilai, saat ini merupakan saat yang tepat bagi pemerintah untuk segera menyerap saham Freeport Indonesia. Alasannya, ia menilai bahwa posisi Freeport Indonesia saat ini sedang berada di ujung tanduk.
“Freeport itu juga BU (butuh uang) karena salah ekspansi di Meksiko. Apalagi harga emas juga sedang turun. Dengan adanya harga emas yang buruk dan Freeport terjepit, maka pemerintah bisa memaksakan opsi-opsi,” jelasnya.
Dalam sembilan bulan pertama 2015, Freeport Indonesia mampu menyumbang penjualan tembaga senilai US$ 465,3 juta dari total US$ 2,38 miliar. Sementara itu, untuk penjualan emas, Freeport Indonesia menyumbang penjualan senilai US$ 316,34 juta dari total US$ 328,39 yang dibukukan.
Hal itu jelas membuat posisi Freeport Indonesia sangat penting bagi induknya di Negara Adidaya tersebut. Apalagi, Freeport-McMoran membukukan kerugian US$ 8,2 miliar atau sekitar Rp 114,8 triliun karena cadangan minyak tidak berhasil ditemukan usai kegiatan eksplorasi (dry hole) di Teluk Meksiko. (ags/gen)