"Padahal uang itu kalau dibelanjakan akan menggerakkan ekonomi masyarakat. Belanjakan pada tempat yang tepat. Uang itu ditunggu masyarakat kalau dibelanjakan, uangnya bisa berputar,” ujar Jokowi pada Musyawarah Nasional V Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) 2015 di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (25/11).
Dikutip dari situs Sekretariat Kabinet, Presiden Jokowi mempertanyakan rendahnya penyerapan anggaran itu. Seharusnya, kata Jokowi, tidak ada alasan belanja anggaran lambat mengingat dananya sudah tersedia dan tinggal dibelanjakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden memastikan akan memberikan dukungan penuh kepada kuasa pengguna anggaran selama uang yang dibelanjakan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
“Tidak pernah. Karena saya juga tidak, serupiah pun tidak pernah pegang-pegang yang namanya uang,” ujarnya.
Karenanya, Jokowi memastikan skema pencairan anggaran transfer ke daerah akan diubah. Untuk daerah yang banyak menyimpan uangnya di bank tidak akan diberikan dana tunai, melainkan dalam bentuk obligasi negara.
“Kalau uang cash lagi nanti ditaruh di deposito. Nanti yang kita transfer yang serapannya rendah adalah surat utang. Artinya kalau daerah itu memerlukan Rp102 miliar, ya Rp102 miliar yang diambil,” ujar Presiden Jokowi. (ags)