Hal itu menggenapi tiga izin yang telah lebih dahulu masuk, yakni izin prinsip investasi, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan izin Perseroan Terbatas (PT).
Sementara lima izin baru yang menyusul dipersingkat waktu pengurusannya adalah izin Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA), Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA), Angka Pengenal Importir Produsen (API-P), dan Nomor Induk Kepabeanan (NIK).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi mungkin delapan izin ini sudah optimal, kami tak akan menambah izin lagi dan kami akan evaluasi sistem yang sudah ada selama tiga hingga empat minggu ke depan," tuturnya.
Dalam waktu dekat, Franky berharap seluruh perizinan yang kewenangannya telah dilimpahkan kementerian ke BKPM bisa dipangkas prosesnya menjadi hanya tiga jam.
"Pada bulan Januari mendatang kami harap seluruh Peraturan Menteri masing-masing instansi terkait delegasi wewenang ke izin investasi tiga jam sudah keluar," katanya.
Penerbitan IMTA dan RPTKA sebelumnya merupakan kewenangan Kementerian Ketenagakerjaan, sedangkan penerbitan TDP dan API-P dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan. Sementar aitu, NIK diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan.
Menyambung ucapan Franky, Deputi bidang Pelayanan Penanaman Modal BKPM Lestari Indah mengatakan kalau penerbitan izin-izin ini akan dilakukan secara paralel demi menghemat waktu. Perizinan tiga jam ini akan dibagi menjadi empat tahap dengan alokasi waktu masing-masing tahap selama 45 menit.
Pada 45 menit pertama, kata Lestari, investor akan mengurus izin prinsip, izin PT, dan NPWP serta booking tanah. Selama 45 menit berikutnya, investor harus mengurus TDP dan IMTA, yang kemudian dilanjutkan dengan mengurus API-P, NIK dan RPTKA.
"Dengan adanya ini kami harap bisa tepat tiga jam pelaksanaannya. Kalaupun ada force majeur paling hanya masalah jaringan karena kan semuanya online," terangnya.
Sebelumnya, BKPM telah meluncurkan sistem pelayanan perizinan investasi tiga jam pada 26 Oktober, dengan syarat nilai investasi minimal Rp 100 miliar, mampu menyerap tenaga kerja seribu orang, dan menyiapkan data diri seperi KTP untuk investor lokal atau paspor untuk investor asing.
(ags)