"Dari segi kurs, kita cenderung melemah, kelihatannya untuk tahun ini saya bisa katakan Rupiah masih akan ada tekanan sampai akhir tahun," ujar Anton, di Jakarta, Rabu (2/12).
Namun, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia pada hari ini, nilai tukar rupiah mencapai Rp13.757 per dolar AS, menguat dibandingkan hari sebelumnya Rp13.808 per dolar AS. Anton menilai, pelemahan bakal terjadi jelang pergantian tahun, dimana permintaan dolar AS meningkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, Anton menyatakan bahwa pada 2016 diprediksi arus modal akan tetap masuk ke Indonesia seiring dengan perbaikan pertumbuhan ekonomi domestik. Hal itu juga menjadi alasannya memperkirakan bahwa Rupiah bakal kembali menguat di tahun depan.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar Rupiah mengalami tekanan depresiasi pada triwulan III 2015. Pada triwulan III 2015, Rupiah secara rata-rata melemah sebesar 5,35 persen dari kuartal sebelumnya ke level Rp13.873 per dolar AS.
Namun, Rupiah menguat pada bulan Oktober 2015 dipicu oleh sentimen positif terhadap negara berkembang akibat hasil pertemuan bank sentral AS yang pesimistis dan membaiknya optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia sejalan dengan rangkaian paket kebijakan pemerintah serta paket stabilisasi nilai tukar yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.
Sepanjang Oktober lalu, Rupiah secara rata-rata menguat 4,47 persen (mtm) ke level Rp13.783 per dolar AS. Bank Indonesia menyatakan bakal terus menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan fundamentalnya. (gir)