Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto menuturkan tanpa membuat pakan secara mandiri, keuntungan yang didapat para pembudidaya ikan akan sangat kecil. Pasalnya, pendapatan yang diterima sebagian besar akan terserap untuk biaya pakan, yang bisa mencapai kisaran 70-80 persen.
“Instruksi dari Ibu Menteri [Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti] biaya pakan harus turun sampai dengan 60 persen sehingga kesejahteraan pembudidaya meningkat dan sejajar dengan UKM [Usaha Kecil dan Menengah],” tutur Slamet di Kantor Pusat KKP, Jakarta, Selasa (8/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Slamet memperkirakan, harga produk pakan mandiri bisa lebih murah sekitar 30 persen dibandingkan produksi pabrik. Selain itu, bahan baku alternatif itu dinilai bisa menekan penggunaan tepung ikan yang selama ini masih menjadi sumber protein utama dari pakan ikan.
Tahun ini, produksi tepung ikan lokal diperkirakan hanya mencapai 139,55 ribu ton dari sekitar 211 ribu kebutuhan tepung ikan nasional.
Dia mengatakan, kontribusi pakan mandiri untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan nasional masih sangat kecil, hanya sekitar 1 persen dari total kebutuhan nasional 9,27 juta ton. Dalam lima tahun ke depan, Slamet berharap produksi pakan ikan mandiri bisa memenuhi 30 persen kebutuhan pakan ikan.
Pemerintah, lanjut Slamet, telah memberikan stimulus kepada kelompok produsen pakan mandiri berupa bantuan mesin produksi terkait, pembinaan, hingga pengawasan agar kualitas produk pakan tetap sesuai standar nasional yang berlaku.
Tahun depan, pemerintah telah mengalokasikan sekitar Rp 120 miliar untuk mendukung program budidaya ikan termasuk pakan ikan mandiri.