Managing Director Rajawali Corpora, Darjoto Setyawan mengatakan proses menuju kesepakatan akuisisi tersebut masih berlangsung. Ia menambahkan, kedua belah pihak masih aktif bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan,
“Kami memiliki hubungan kerja yang baik dan kami optimis bahwa kami bergerak lebih dekat untuk menutup kesepakatan,” ujarnya melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Jumat (11/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Tetap 37 persen Felda Group, tetapi FGV kemungkinan akan ambil kecil di bawah 10 persen. Sisanya semua di Felda Investment Corp, subsidiary Felda Group,” ungkapnya.
“Saya tidak bisa mengomentari lebih karena kami di tengah-tengah penyelesaian kesepakatan. Tapi yakinlah transaksi saling akan menguntungkan semua pihak yang terlibat. Kami usahakan sesegera mungkin, mengingat ada libur natal dan tahun baru,” jelasnya.
Seperti diketahui, Felda Group berencana mencaplok 37 persen saham BWPT, yang nilainya mencapai US$ 680 juta atau Rp 9,04 triliun serta terdiri dari gabungan dana tunai dan saham. Namun, transaksi tersebut tak kunjung terjadi karena berbagai hal.
Pada pertengahan Juli 2015, kasak-kusuk gagalnya transaksi tersebut mengemuka. Pasalnya, uang muka transaksi yang seharusnya sudah dikirimkan FGV kepada pihak Rajawali Corpora tak kunjung diterima. Sesuai kesepakatan, nilai uang muka yang harus dibayarkan mencapai US$ 174,5 juta.
Sialnya lagi, FGV merupakan salah satu bisnis keluarga Perdana Menteri Malaysia Najib Razak yang saat itu tengah menghadapi skandal keuangan negara. Alhasil, rencana transaksi ini turut terseret sorotan negatif publik dan tertahan prosesnya.
Saat itu, FGV harus melalui serangkaian uji kelayakan (due diligence) terkait akuisisi yang dijadwalkan rampung sekitar September 2015. Namun, karena skandal di Malaysia yang menyeret Perdana Menteri Najib Razak dan berbagai hal lain, maka akhirnya proses tersebut molor hingga saat ini.