Anggota DEN Tumiran mengatakan dibukanya opsi pemanfaatan energi nuklir didasarkan oleh ancaman krisis energi yang dihadapi Indonesia beberapa waktu ke depan.
"Jadi pertimbangannya soal keberlanjutan, security of supply, dan kapasitas yang besar. Dan itu menjadi pertimbangan,” ujar Tumiran di Jakarta, Selasa (15/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengakui, dalam draf RUEN kali ini DEN telah memberikan ruang yang lebih besar terkait pengembangan dan pemanfaatan nuklir sebagai sumber energi pembangkit di Indonesia.
Sementara itu, Mantan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Marzan Iskandar mengatakan bahwa keputusan untuk pengembangan dan pemanfataan nuklir di Indonesia akan ditentukan oleh Presiden Jokowi.
Sebelumnya perusahaan pengembang nuklir asal Rusia yakni Rosatom menegaskan minatnya membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia.
Tak hanya Rosatom, pemerintah China juga telah siap menanamkan investasi sebesar US$ 12,5 miliar untuk membangun PLTN berkapasitas 5 x 1.000 Megawatt (MW) di Indonesia jika pada akhirnya Pemerintah Indonesia memberikan lanpu hijau untuk proyek ini.
Di mana untuk merealisasikan rencana itu, pemerintah China akan menggandeng perusahaan pelat merah, PT Industri Nuklir Indonesia (Inuki) guna menggarap proyek perdana di Bangka Belitung. (gen)