Pada penutupan kemarin, harga saham emiten berkode HMSP ini bertengger di angka Rp 95 ribu per saham. Padahal, minimal pembelian saham adalah sebanyak 1 lot atau 100 saham. Atas dasar itu, jika ingin memiliki saham HMSP, maka investor harus merogoh kocek hingga Rp 9,5 juta.
Direktur Perdagangan BEI Alpino Kianjaya mengatakan dengan level harga saham Sampoerna saat ini, investor ritel dinilai tidak mampu menjangkaunya. Alhasil, perdagangan saham HMSP terbilang tidak liquid atau jarang ditransaksikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam perdagangan saham harian, Alpino mengatakan saham HMSP masih minim ditransaksikan baik dari sisi penawaran dan permintaan. Berbeda dengan saham lain, contohnya milik PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Sementara dari sisi frekuensi perdagangan, transaksi saham Sampoerna masih sangat minim dibandingkan dengan saham perusahaan lain yang juga memiliki kapitalisasi jumbo.
“Secara value sangat besar, tetapi lihat frekuensinya baru 193 kali. Bayangkan dengan BBRI yang frekuensinya 1.500 kali. Frekuensi itu banyaknya orang transaksi. Jadi sedikit karena harga sahamnya mahal,” ujarnya.
Ia menilai stock split (pemecahan saham) adalah salah satu opsi teknis untuk bisa lebih menarik investor ritel. Alpino menyayangkan, perusahaan sebesar Sampoerna memiliki saham yang kurang likuid.
Menurutnya, dengan adanya stock split maka likuiditas saham Sampoerna juga akan jauh lebih meningkat.
“Kalau stock split, misalnya harga dari Rp 95 ribu menjadi Rp 9 ribu, maka likuditasya akan jauh lebih menarik karena akan lebih terjangkau bagi investor ritel,” jelasnya.
Head of Regulatory Affairs Sampoerna Elvira Lianita mengatakan manajemen belum bisa memberikan informasi lebih lanjut terkait rencana stock split tersebut.
“Kami sampaikan bahwa kami tidak dapat berkomentar mengenai pemecahan saham atau stock split,” ujarnya melalui pesan singkat kepada CNN Indonesia. (gen)