Berdasarkan hasil survei "Banking Banana Skins 2015" yang dilakukan oleh Centre for the Study of Financial Innovation (CSFI) dan Pricewaterhouse Coopers (PwC), tingkat kecemasan responden Indonesia terhadap kemungkinan gagalnya pemulihan terkait dengan rapuhnya sistem perbankan cukup tinggi.
Dari 24 indikator penilaian, iklim makro ekonomi menjadi perhatian terbesar para bankir di Indonesia. Perhatian terbesar berikutnya adalah nilai tukar mata uang, tingkat suku bunga, risiko kredit dan pelaksanaan praktik perbankan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indikator lain yang juga menjadi perhatian serius bankir Indonesia adalah tingkat kriminalitas dan risiko teknologi perbankan. Semua indikator tersebut mencerminkan intensitas relatif kekhawatiran ekonomi di Indonesia, terutama menyangkut kejahatan siber.
Responden di Indonesia mengkritik sistem yang terlalu besar dan kuno dan mengingatkan tentang isu keamanan terkait perbankan digital dan karyawan atau penyedia jasa nakal yang didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau sistem insentif yang berisiko," jelas Wake.
David Wake menambahkan, perbankan Indonesia selama beberapa tahun terakhir menikmati ekonomi nasional yang kuat, menyusul perolehan margin yang cukup baik. Selain itu, pertumbuhan usaha yang solid serta tingkat kredit bermasalah (non per forming loan/NPL) yang relatif rendah menjadi cermin kinerja perbankan nasional selam aini.
"Dengan melambatnya pertumbuhan, NPL dan kekhawatiran tentang iklim makro ekonomi meningkat, kita akan melihat tingkat kesiapan di Indonesia melalui ujian yang berat dalam beberapa tahun mendatang," kata Wake. (ags/gen)