Turunnya volume ekspor CPO Indonesia dipengaruhi beberapa faktor seperti harga minyak kedelai yang murah, berkurangnya permintaan dari negara tujuan ekspor utama dan isu sustainable palm oil sourcing.
“Negara-negara Afrika yang merupakan pasar baru Indonesia membukukan penurunan drastis pemintaan CPO pada November mencapai 70 persen menjadi hanya 72.370 ton,” ujar Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan, Rabu (16/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan ekspor yang cukup siginifikan juga dicatatkan oleh India sebesar 25,5 persen sepanjang bulan lalu menjadi 506.390 ton. Penurunan permintaan dari India disebabkan oleh pelarangan penumpukan minyak nabati di dalam negeri. Selain itu India juga menaikkan tarif impor khususnya untuk Butter Oil dari 30 persen menjadi 40 persen.
Selain negara-negara di Afrika dan India, merosotnya permintaan CPO Indonesia juga berlaku untuk Bangladesh sebesar 55 persen menjadi 44.850 ton dan Amerika yang melorot 30 persen atau hanya mampu mencapai 82.190 ton.
Sebaliknya beberapa negara tujuan utama ekspor justru menaikkan permintaan minyak sawit sepanjang November seperti China mencatatkan kenaikan 15 persen dengan permintaan mencapai 436,91 ribu ton, Pakistan mengerek permintaan minyak sawitnya menjadi 159,95 ribu ton atau naik 22 persen.
“Dengan demikian kita bisa melihat bahwa ekspor minyak sawit Indonesia tetap tumbuh baik. Sementara dari sisi harga, sepanjang November harga CPO global bergerak di kisaran US$ 537,5–US$ 577 per metrik ton,” jelasnya.
Proyeksi Desember
Fadhil menambahkan, melihat kondisi cuaca yang sudah memasuki musim hujan di beberapa daerah sentra sawit dan PT Pertamina (Persero) yang sudah mulai menyerap CPO di dalam negeri, maka di perkirakan harga CPO global akan berbalik naik.
“Gapki memperkirakan sepanjang Desember harga CPO global akan bergerak di kisaran US$ 550–US$ 600 per metrik ton,” ujarnya. (gen)