Pagi ini, Jumat (18/12), Imam berkisah sembari mengantar saya ke kantor CNN Indonesia. Dia mengaku dalam sebulan terakhir bisa mengantongi pendapatan dari hasil mengojek sekitar Rp9 juta. Dia membuat asumsi tersebut dengan memperhitungkan rata-rata penerimaan harian yang sekitar Rp300 ribu dari delapan kali mengantar penumpang.
"Saya full ngojek setiap hari dengan target delapan antaran. Kalau dari penumpang dapat Rp15 ribu ditambah dari Gojek-nya sekitar Rp25 ribu, maka sehari bisa Rp320 ribu," tuturnya.
Lihat juga:Bos IMF Acungi Jempol Konsep Bisnis Go-Jek |
Pendapatan tersebut sangat lumayan baginya ketimbang hanya mengandalkan pemasukan dari hasil berjualan buku yang tidak menentu. Setidaknya, Imam tak perlu lagi khawatir untuk mencicil kredit rumahnya yang masih harus diangsur selama belasan tahun ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak dari driver Gojek itu korban PHK. Kami sangat terbantu dengan pekerjaan ini," tuturnya.
Lihat juga:Gojek: Dulu Dipuji Jokowi, Kini Dilarang |
Optimisme Imam terhadap masa depan Gojek mendadak surut setelah CNN Indonesia menyinggung soal larangan ojek maupun taksi berbasis online. Dia baru tahu kalau Kementerian Perhubungan kemarin mengeluarkan pernyataan itu.
"Ini jadi hari berkabung nasional," ucapnya terkejut.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menerbitkan Surat Pemberitahuan Nomor UM.3012/1/21/Phb/2015 pada 9 November 2015. Isi surat tersebut adalah melarang seluruh ojek maupun taksi yang berbasis daring (online) beroperasi karena dinilai tidak memenuhi ketentuan sebagai angkutan umum. Larangan ini baru dirilis kemarin, Kamis (17/12) oleh Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Djoko Sasono.
"Mungkin ya, bisa jadi kami akan turun ke jalan," katanya.
Imam menambahkan, seharusnya tak hanya ojek dan taksi online yang dilarang beroperasi. "Kalau mau adil ya ojek pangkalan dan delivery-delivery restoran yang pakai motor juga dilarang karena kan itu kendaraan pribadi yang digunakan," tuturnya.
Dia berharap, pemerintah bisa duduk bersama dengan pemangku kepentingan untuk mencarikan solusi yang tepat. Intinya, kata Imam, "selama kemacetan belum teratasi dan sarana transportasi belum memadai, Gojek merupakan solusi." (ags/bag)