Selain karena efek peningkatan Fed Fund Rate, indikator makroekonomi yang semakin membaik juga menjadi alasan otoritas moneter membuka opsi penurunan BI rate.
Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung mengatakan efek peningkatan suku bunga The Fed masih terlalu dini untuk jadi acuan penurunan BI rate sehingga kebijakan moneter baru akan dievaluasi pada Januari mendatang. Salah satu indikator utama yang jadi perhatian BI saat ini adalah pergerakan rupiah yang kecenderungannya mulai menguat meski terbatas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, lanjutnya, neraca transaksi berjalan dan inflasi juga menjadi pertimbangan. BI memperkirakan, defisit transaksi berjalan pada tahun ini akan berkisar 2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau lebih rendah dari target 2,5 hingga 3 persen PDB. Sementara inflasi hingga akhir tahun ini diramalkan sekitar 3 persen mengingat inflasi kumulatif periode Januari-November (year to date) baru sebesar 2,37 persen.
"Kendati ada pilihan untuk melonggarkan kebijakan moneter, namun kami masih antisipasi kenaikan Fed Rate yang bertahap dan independen seperti apa yang diutarakan Gubernur The Fed semalam. Tapi market sepertinya sudah belajar dari kenaikan ini, sehingga gejolak di pasar global nantinya tidak terlalu besar kalaupun (Fed Rate) ada kenaikan lagi," jelasnya.
The Fed pada Rabu (16/12) waktu Washington atau Kamis (17/12) dini hari waktu Jakarta memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya sebesar 0,25 basis poin untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir. The Fed rate naik menjadi 0,25 persen-0,5 persen setelah bank sentral Amerika mempertahankan suku bunga mendekati nol persen sejak krisis moneter pada Desember 2008. (ags)