Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan kalau industri farmasi, kimia, dan obat tradisional masih akan tetap menjadi pendukung utama pertumbuhan industri dengan nilai pertumbuhan sebesar 8,5 hingga 8,7 persen. Tiga industri tersebut terus bertumbuh mengingat ketiganya selalu paling prima dibanding sektor industri lainnya.
Hingga kuartal III 2015, pertumbuhan nilai output industri farmasi, kimia, dan obat tradisional berada di angka 11,17 persen dimana angka tersebut lebih besar dibanding sektor makanan dan minuman (7,94 persen) atau tekstil (-0,88 persen). Sampai akhir tahun ini, diperkirakan pertumbuhan sektor industri farmasi, kimia, dan obat tradisional sebesar 8,4 hingga 8,6 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Saleh menjelaskan kalau telah ada beberapa proyek yang diinisiasi Kemenperin demi mendukung industri kimia dan farmasi. Salah satunya, Kemenperin tengah melakukan studi kelayakan pembangunan pabrik bahan baku obat seperti paracetamol dengan kapasitas 10 ribu ton per tahun, amoxilin dengan kapasitas 750 ton per tahun, hingga garam farmasi dengan kapasitas 6 ribu ton per tahun.
"Pertumbuhan industri kami pernah di bawah pertumbuhan ekonomi pada 2013, tapi kini kami coba mempertahankan tren yang baik ini. Hingga kuartal III, pertumbuhan industri sebesar 5,2 persen juga lebih tinggi dibanding negara Asia Tenggara lain seperti Malaysia sebesar 4,9 persen atau Thailand sebesar 0,9 persen," jelasnya.
Sebagai informasi, Kemenperin sebelumnya merevisi target pertumbuhan hingga akhir tahun karena dihantam oleh depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika sebesar 11,05 persen dari awal tahun hingga November 2015. (gen)