Direktur Panas Bumi, Yunus Saefulhak mengungkapkan, salah satu faktor yang menyebabkan molornya pengumuman pemenang tender tak lepas dari lambatnya prosesi pembentukan panitia lelang yang harus melibatkan kontribusi pemerintah daerah.
"Ini soal administarasi persuratan. Dahulu diusulkan seseorang yang sudah tune in, tapi belakangan datang lagi surat susulan bahwa orang tersebut sudah dirotasi dan usulan yang disampaikan lama. Pembentukan panitia lelang sendiri harus menunggu dari (pemerintah) daerah karena ini amanat Peraturan Pemerintah sehingga SK (Surat Ketetapan) Panitia lelang baru ditandatangani tanggal 2 Desember," ujar Yunus kepada CNN Indonesia, Jumat petang (17/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan begitu, pemerintah harus menggelar tender ulang guna memenuhi ketentuan lelang Wilayah Kerja Panas Bumi.
Sementara untuk lelang 3 WKP lainnya, yakni Way Ratai di Lampung dengan potensi energi sekitar 55 megawatt (mw), WKP Gunung Talang di Sumatera Barat dengan potensi 65 mw, dan WKP Marana di Sulawesi Tengah dengan potensi energi 20 mw ditargetkan bisa rampung pada Mei 2016.
"Untuk 3 WKP tadi telah diumumkan pafa 17 Desember 2015 selesai Mei 2016," tandas Yunus.
Sebagaimana diketahui, guna menggenjot pemanfaatan energi baru terbarukan sebagai sumber energi pembangkit listrik Kementerian ESDM dijadwalkan bakal melelang 27 wilayah kerja pertambangan (WKP) panas bumi, dengan total potensi kapasitas mencapai kisaran 1.535 mw dalam beberapa waktu ke depan.
Di samping itu, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) telah mengajukan agar proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) mendapat insentif berupa tax allowance dan tax holiday. (gir)