“Adanya aksi beli menahan laju IHSG dari potensi penurunan. Akibatnya meski laju IHSG masih menyisakan utang gap di level 4.409-4.429, namun tampaknya IHSG belum akan ke area tersebut. Potensi kenaikan ini dapat terjaga bila aksi beli masih terjadi yang juga ditopang oleh masih positifnya laju bursa saham global,” ujar Reza dalam riset, dikutip Rabu (23/12).
Namun Reza mengingatkan meski perayaan Natal masih akan berlangsung pada Jumat di pekan ini, namun sikap pelaku pasar hampir mayoritas mulai mengurangi aktivitas transaksinya atau dengan kata lain mengalami holiday mood.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara terkait nilai tukar, Reza melihat rupiah diuntungkan dengan masih melemahnya laju dolar Amerika sehingga memberi kesempatan rupiah bertahan dalam tren positif.
Research Analyst Reliance Securites Lanjar Nafi menambahkan, sepanjang perdagangan kemarin rupiah memimpin penguatan terhadap dolar diantara mata uang negara berkembang lainnya.
“Paket kebijakan ke VIII di mana perusahaan swasta akan diizinkan untuk membangun kilang minyak selama mereka menjual produk akhir untuk PT Pertamina (Persero), serta dukungan pajak impor suku cadang penerbangan menjadi dorongan rasa optimis investor lokal di akhir tahun,” katanya.
Sayangnya, sentimen positif tersebut menurut Lanjar tidak mampu mengangkat kembali laju IHSG yang disebutnya telah terkonsolidasi pada area jenuh beli.
“Selain itu telah terjadi dead-cross dengan sinyal penguatan yang cukup terbatas dengan peluang cukup besar untuk kembali terkoreksi. Diperkirakan IHSG akan bergerak mixed cenderung tertekan dengan range pergerakan 4.470-4.555,” kata Lanjar. (gen)