Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam mengakui masalah klasik yang dihadapi selama ini dalam mengembangkan EOR untuk menguras cadangan minyak tersisa, adalah tidak pernah tuntas memilih lapangan yang akan digarap.
Padahal dengan kondisi lapangan-lapangan tua yang dikelola Pertamina saat ini, EOR harus dilakukan dari sekarang untuk memastikan target produksi 1,9 juta barel oil equivalent per day (BOEPD) pada 2025 bisa tercapai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
EOR merupakan upaya menguras sisa minyak yang masih tertinggal di sumur minyak karena reservoir-nya telah mengalami penurunan angka produksi. Caranya adalah dengan menginjeksikan material berupa cairan, gas, atau campuran kimia tertentu ke dalam reservoir. Metode ini dilakukan setelah tahap perolehan pertama (primary recovery) tidak mampu lagi mengambil sisa minyak yang terdapat di dalam batuan reservoir.
Bidik 64 ribu Barel
Kegiatan EOR yang menurut Amran masih dalam tahap studi di Pertamina diharapkan bisa menyumbang produksi sebanyak 64 ribu barel per hari (bph) pada 2025 mendatang.
“Rinciannya, Pertamina EP menyumbang 38 ribu bph, PHE 23 bph, dan Pertamina EP Cepu sebanyak 4 bph,” tutur Amran.
Namun untuk menjaga agar para pekerja hulu Pertamina tidak dibebani pekerjaan tambahan dalam menggarap EOR disamping tugas utamanya menjaga produksi yang sudah berjalan, Amran berharap agar Upstream Technology Center (UTC) Pertamina mengambil peran penuh untuk melakukan studi.
“Dengan begitu, kegiatan ini tidak menjadi beban pekerja yang telah disibukkan oleh kegiatan produksi rutin,” ujar Amran. (gen)