Pria yang kerap disapa Suhu Tan itu menyatakan, periode terendah bagi nilai tukar rupiah akan terjadi sepanjang Mei-Juli 2016.
“Indonesia akan mengalami keterpurukan ekonomi cukup tajam pada Mei, Juni, dan Juli karena saya perkirakan akan terjadi banyak pergolakan ekonomi selama periode itu karena nilai tukar rupiah cenderung tertekan,” kata Suhu Tan saat ditemui CNNIndonesia.com di kediamannya, Jakarta, Kamis (31/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun jika gejolak nilai tukar rupiah di pertengahan tahun yang ditengarai akibat kebijakan bank sentral Amerika menaikkan suku bunga bisa diredam pemerintah, Suhu Tan meramalkan ekonomi Indonesia akan berubah menjadi sangat kondusif.
Sementara Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menyoroti ketidakmampuan pemerintah dalam memanfaatkan kesempatan bekerjasama dengan konsorsium negara-negara besar dunia untuk mengoptimalkan penjualan hasil produksi industri ke luar negeri. Kondisi tersebut menurut Faisal akan merugikan Indonesia dari sisi kinerja ekspor sampai mempersempit pintu untuk memasukkan investasi asing.
“Persaingan dengan negara-negara tetangga bakal semakin berat karena Vietnam dan Malaysia sudah masuk Trans-Pacific Partnership (TPP). Mereka bisa menggunakan jalan bebas hambatan memasuki pasar Amerika, Kanada, Jepang, Australia, dan Selandia Baru,” kata Faisal.
Bahkan, Vietnam disebutnya telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas pada Juli 2015. Oleh karena itu, Faisal mengatakan Vietnam memiliki daya tarik yang lebih kuat bagi investor asing untuk membangun pabrik atau industri manufaktur yang berorientasi ekspor.
“Sebaliknya, investor yang masuk ke Indonesia kebanyakan berorientasi pasar dalam negeri sehingga tidak banyak meningkatkan kapasitas ekspor,” jelas Faisal dalam blog pribadinya. (gen)