Terlebih setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla mengamini hipotesa BPS dengan menyebut jika pendapatan keluarga tidak naik, sementara harga rokok terus naik maka otomatis pembelian rokok hanya akan membuat miskin masyarakat.
Enny menilai pernyataan pejabat negara seperti itu seolah menjadikan rokok faktor tunggal penyebab kemiskinan. Padahal menurut Enny, faktor utama dari naiknya angka kemiskinan karena ketidakmampuan pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan formal dan juga banyaknya pemutusan hubungan kerja yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain tidak mampu menyediakan pekerjaan bagi rakyat miskin, Enny menyoroti kegagalan pemerintah dalam mengendalikan harga kebutuhan pokok. Akibatnya mereka yang berada di kelompok rentan miskin bisa dengan mudah masuk ke kategori miskin.
Untuk itu, ketimbang menyalahkan salah satu pihak dimana ujungnya industri dirugikan, akan lebih baik pemerintah fokus menciptakan lapangan pekerjaan di sektor formal. Selama tidak ada ketersediaan lapangan kerja yang memadai, ya pasti akan berdampak ke meningkatnya angka kemiskinan.
Padahal, pemerintah disebut Enny juga selama ini menikmati setoran cukai dan pajak yang tinggi jika industri tembakau di Indonesia tumbuh.
Sebelumnya pada Senin (4/1) lalu, Kepala BPS Suryamin menyatakan terjadi kenaikan angka jumlah penduduk miskin dari September 2014 ke September 2015 sebanyak 780 ribu jiwa. Pada September 2014, jumlah penduduk miskin sebanyak 27,73 juta jiwa dan pada September 2015 meningkat menjadi 28,51 juta jiwa yang disimpulkan akibat konsumsi rokok yang tinggi di masyarakat.