Seperti diberitakan sebelumnya, harga acuan minyak West Texas Intermediate (WTI) pada Selasa (12/1) dini hari merosot ke level US$31,34 per barel. Angka itu turun US$7 sen dari posisi harga terakhir WTI dan hampir 19 persen lebih rendah dibandingkan posisi awal tahun.
Bahkan analis dari Standard Chartered Bank menyebut harga minyak dunia bisa tergelincir sampai US$10 per barel, yang jelas akan mengganggu penerimaan negara penjual minyak mentah termasuk Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya kita akan pangkas harga minyak, untuk lifting minyak nanti itu tergantung perhitungan ulang tim SKK Migas," ujar Bambang di kantornya, Jakarta, Selasa (12/1).
Dari segi penerimaan, Bambang mengatakan pemerintah juga tidak bisa berharap banyak terhadap penerimaan negara dari sektor migas tahun ini. Untuk itu, mantan komisaris PT Pertamina (Persero) menyebut pemerintah terus mengupayakan penghematan biaya yang harus diganti negara untuk kegiatan eksplorasi dan produksi (cost recovery) KKKS tahun ini.
"Review cost recovery, kami selalu melakukan tiap tahun ke tahun," ujar Bambang.
Sebelumnya Bambang melaporkan, realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tahun lalu hanya mencapai Rp252,4 triliun atau 93,8 persen dari target yang mencapai Rp386,9 triliun.
Jika dirinci, penerimaan negara dari sektor PNBP migas tercatat hanya Rp103,7 triliun atau 87,2 persen dari target APBNP 2015 yang mencapai Rp241,1 triliun.
Sementara, realisasi rata-rata harga minyak mentah Indonesia tahun lalu mencapai US$50 per barel atau lebih rendah dari asumsi dalam APBNP 2015 sebesar US$60 per barel. Rendahnya harga minyak mentah tersebut dipengaruhi oleh lemahnya permintaan global serta tingginya pasokan minyak dunia. (gen)