Kepala Riset First Asia Capital, David Sutyanto mengatakan pelaku pasar pada kali ini melakukan aksi jual karena kepanikan (panic selling) karena adanya sentimen tambahan yaitu serangan teror yang terjadi di Thamrin, Jakarta.
“Biasanya mulai terjadi panic selling. Penurunan yang dalam juga bisa terjadi. Tapi ini masih karena panic selling dan tidak akan berlangsung lama seharusnya,” ujarnya saat dihubungi CNN Indonesia, Kamis (14/1).
Lihat juga:Kronologi Baku Tembak di Thamrin Jakarta |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Yang membahayakan adalah crowd effect yang sifatnya tidak rasional lagi akibat berita simpang siur. Potensinya bisa melemah sampai 2 persen. Ingat saat kejadian bom hotel JW Marriot. Hampir sama situasinya,” imbuh David.
“Ini sesuatu yang diluar kontrol kami. Kami upayakan supaya market tidak terlalu nervous setelah kejadian ini. Sementara diatasi dengan penanganan keamanan untuk menimbulkan kepercayaan,” katanya.
“Kalau saya pikir, ini kejadian dan pelemahan temporer. Yang penting kita punya fundamental makro yang kuat untuk mengembalikan kondisi yang temporer itu kembali ke normal,” imbuh Bambang.
(gir)