Alasannya, Jepang adalah negara mitra dagang sekaligus negara yang paling banyak menanamkan modalnya di Indonesia, sehingga akibatnya akan sangat besar jika Indonesia salah langkah. Dalam hal ini, Enny mengingatkan Pemerintah untuk pintar-pintar melakukan negosiasi serta mengedepankan keadilan bagi kedua negara.
"Sebelum melakukan kerjasama, seharusnya semua sudah dilakukan dengan kalkulasi yang tepat. Sehingga di kemudian hari tidak ada kerjasama yang sedikit-sedikit minta dikaji ulang, apalagi Jepang itu banyak investasinya di sini," jelas Enny melalui sambungan telepon, Jumat (15/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seharusnya kedua belah pihak juga mencantumkan beberapa poin mengenai hal tersebut. Jadi kalau nanti pemerintah melakukan hal yang paling ekstrim, bisa terlihat dampaknya seperti apa. Maka dari itu, pemerintah harus bisa melakukan evaluasi secara komprehensif," tutur Enny.
"Karena kalau perjanjian ekonomi ini tidak serius, maka bisa mengancam hubungan antar negara," terangnya.
Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jepang merupakan kontributor Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar kedua setelah Singapura dengan angka US$917,2 juta dan 399 proyek sepanjang Januari hingga September 2015. Angka tersebut mengambil porsi sebanyak 12,39 persen dari total PMA yang masuk sebesar US$7,40 miliar pada periode tersebut.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan kalau IJEPA perlu dievaluasi ulang karena dianggap hanya menguntungkan Jepang dan merugikan Indonesia. Ia beralasan, neraca perdagangan Indonesia selalu defisit setelah diberlakukannya kerjasama tersebut.
Data Kemendag menunjukkan neraca perdagangan non-migas Indonesia dengan Jepang tercatat defisit sebesar US$388,24 juta antara Januari hingga Oktober 2015. Pada tahun sebelumnya, Indonesia juga mencatatkan defisit sebesar US$2,73 miliar.
Padahal setahun sebelum diberlakukannya IJEPA, ekspor nonmigas Indonesia ke Jepang tercatat sebesar US$13,09 miliar dengan impor senilai US$6,47 miliar, sehingga terjadi surplus US$6,62 miliar.