“Jangan salahkan Pertamina karena yang menentukan itu bukan Pertamina tapi yang membuat formula itu yaitu pemerintah, bukan Pertamina," ujar pria yang juga Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas ini di Jakarta, Jumat (21/1).
Faisal mencontohkan, Pemerintah masih mengizinkan Pertamina menjual BBM jenis premium berkadar RON 88 dengan harga Rp7.050 per liter. Sementara di Malaysia, BBM berkadar RON 95 dilego pada harga Rp5.916 per liter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan Direktur Pemasarannya Ahmad Bambang berkampanye kalau mau buka semua. Biar kita semua tahu. Ngomong-ngomong tapi nggak transparan," tegasnya.
"Ini saatnya membunuh Premium itu untuk kita pindah ke Pertamax dengan harga yang lebih murah dari Premium sekarang. Harusnya itu," pungkas Faisal. (gen)