Hal ini dikemukakan oleh Sekretaris Perusahaan United Tractors, Sara Lubis kepada CNN Indonesia, Senin (25/1). Menurutnya, perseroan memilih untuk membuka opsi pengunduran diri secara sukarela ketimbang menerapkan program pensiun dini.
“Pensiun dini tidak ada ya. Sekarang yang ada adalah pengunduran diri sukarela. Saya sebenarnya kurang nyaman membahas hal ini,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk lini usaha alat berat belum ada rencana ini (pengunduran diri sukarela)," katanya.
“Dengan asumsi Rp300 juta-Rp500juta per karyawan. Potensi beban satu waktu dari program pensiun dini sekitar Rp450 miliar-Rp750 miliar atau 7 persen-11 persen dari laba bersih 2015 yang diprediksi konsensus mencapai Rp6,6 triliun,” tulisnya dalam riset harian Mandiri Sekuritas.
Sara mengakui, pada tahun ini pihaknya memangkas target penjualan alat berat dan produksi batubara melalui anak usahanya PT Pamapersada Nusantara (Pama) tahun ini, yang disebabkan prospek harga batubara yang lemah.
“Tahun ini penjualan alat berat diprediksi hanya di kisaran 2.000 unit. Sementara penjualan batubara diprediksi 10 persen lebih rendah dari 2015,” jelasnya.
Sebagai informasi, sejak awal tahun hingga Oktober 2015 penjualan alat berat Komatsu turun 42 persen menjadi 1.870 unit dari 3.233 di periode yang sama tahun lalu. Padahal, penjualan alat berat Komatsu pada 2012 mampu mencapai sebanyak 6.202 unit, sedangkan 2013 sebanyak 4.203 unit, dan 2014 menjual 3.513 unit.
Sara menyatakan produksi batubara tahun ini diperkirakan turun 10 persen. Hal ini juga berlaku untuk rasio pengupasan tanah yang dipangkas 10 persen. Sementara dari sisi produksi tambang pribadi, untuk 2015 diperkirakan produksi hanya mencapai 4,6 juta ton, dan 2016 sekitar 6 juta ton. (ags)