Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan penyebab utama dari penurunan laba secara persentase adalah karena tingkat kredit bermasalah (non performing loan/NPL) perseroan mengalami kenaikan.
“Di 2014 itu NPL kami hanya 2 persen, di semester 1 2015 NPL naik jadi 3 persen sekarang sudah turun menjadi 2,7 persen," ujarnya dalam konferensi pers Kinerja Keuangan BNI Tahun 2015, Senin (25/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kami abaikan CKPN dan lihat margin bunga bersih (net interest margin/NIM), kami masih tumbuh sekitar 12 persen," ujarnya.
Lebih lanjut, Achmad memperkirakan pertumbuhan laba di kuartal pertama 2016 akan lebih baik dibandingkan tahun lalu, bahkan mencapai dua digit. Hal itu seiring dengan membaiknya perekonomian.
"Kami melihat prospek ekonomi di 2016 rasanya akan lebih bagus dibandingkan 2015," ujar Achmad.
Ia menjelaskan, upaya pencapaian laba tahun ini akan didukung oleh ekspansi kredit sebesar 16-18 persen terutama di sektor infrastruktur, perdagangan, dan konstruksi.
Direktur Keuangan BNI Rico Budidarmo menambahkan penyaluran kredit perseroan tahun 2015 tumbuh 17,5 persen menjadi Rp326,1 triliun dari capaian tahun 2014 Rp277,6 persen. Kredit ke segmen business banking tumbuh 15,3 persen menjadi Rp231,1 triliun dibandingkan tahun 2014, Rp200,4 triliun. Adapun komposisinya meliputi Usaha Menengah dan Kecil (28,6 persen), Korporasi (24,6 persen), BUMN (17,7 persen), dan pembiayaan anak perusahaan dan cabang luar negeri (11,5 persen).
Kredit segmen konsumer BNI tumbuh 10,6 persen menjadi Rp57,5 triliun dibandingkan tahun 2014, Rp52 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari BNI Griya (60,2 persen), diikuti Kartu Kredit (17 persen), kredit konsumer lainnya (15,8 persen), dan Flexi 6,8 persen.
"Dengan demikian aset perseroan di tahun 2015 tumbuh hingga 22,1 persen menjadi Rp508,6 triliun dibandingkan tahun 2014 sebesar Rp416,6 triliun," ujar Rico. (gir/gen)