Dalam penutupan perdagangan di New York Stock Exchange pada Kamis (28/1), saham Freeport McMoran (FCX) tercatat anjlok 4,95 persen ke level US$4,42 per saham, dari angka US$4,65 per saham dalam perdagangan sebelumnya.
Analis Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe mengatakan tidak adanya izin ekspor konsentrat tembaga bagi Freeport Indonesia membuat kinerja induk usahanya di Amerika semakin terganggu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi, lanjutnya, kontribusi tambang Grasberg di Indonesia terhadap Freeport McMoran terbilang besar. Kiswoyo menilai Freeport belum dapat memberikan kejelasan karena memang dana pembangunan smelter terbilang besar.
Atas dasar hal tersebut, ia menilai fluktuasi harga saham Freeport McMoran diprediksi bakal terjadi jika pergolakan antara Pemerintah Indonesia dengan Freeport Indonesia masih terus berlangsung.
“Selama Freeport Indonesia masih belum mendapat kejelasan operasi dari Pemerintah, kita bisa melihat fluktuasi lanjutan dalam saham Freeport McMoran,” katanya.
Seperti diketahui, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Bambang Gatot Ariyono mengatakan keputusan untuk tak menerbitkan rekomendasi ekspor dikarenakan Freeport Indonesia masih belum juga menyetorkan dana jaminan kesungguhan sebesar US$530 juta.
Dana itu sedianya merupakan bagian dari komitmen investasi dalam pembangunan fasilitas pemurnian dan pengolahan atau smelter tembaga di Gresik, Jawa Timur.
Padahal, rekomendasi ekspor merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi Freeport Indonesia untuk bisa mengantongi Surat Persetujuan Ekspor (SPE) dari Kementerian Perdagangan.
Dari sisi kinerja, sepanjang 2015 lalu, Freeport McMoRan mengalami penurunan pendapatan sebesar 25,93 persen menjadi US$15,87 miliar dibandingkan pendapatan 2014 sebesar US$21,43 miliar.
Anjloknya pendapatan akibat rendahnya harga komoditas pertambangan serta minyak dan gas bumi (migas) membuat perusahaan tambang asal Amerika itu menderita rugi bersih US$12,23 miliar, membengkak 840,76 persen dibandingkan kerugian tahun sebelumnya US$1,3 miliar. (gen)