Ekonom Mandiri Sekuritas Leo Rinaldy mengatakan indeks harga konsumen (IHK) naik 0,51 persen secara bulanan pada bulan lalu, dan sejalan dengan prediksinya. Namun jumlah itu lebih rendah daripada prediksi konsensus 0,66 persen secara bulanan.
“Realisasi itu moderat, mengingat rerata inflasi Januari sebesar 0,92 persen secara bulanan pada 2010–2014,” ujarnya dalam riset, Selasa (2/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara tahunan, inflasi naik menjadi 4,14 persen, lebih tinggi daripada 3,35 persen secara tahunan pada Desember 2015.
Adapun inflasi inti kembali melambat menjadi 3,62 persen secara tahunan dari 3,95 persen secara tahunan pada bulan sebelumnya. Leo menilai realisasi itu merupakan yang keempat kali berturut-turut dan mencerminkan permintaan konsumen masih tetap rendah.
Ia menambahkan, dampak lanjutan pada pemangkasan harga BBM pada Januari 2015 lalu dan turunnya harga cabai menghasilkan deflasi 0,36 persen secara bulanan pada Februari 2015. Sehingga seakan menjanjikan adanya dasar penghitungan yang rendah juga untuk IHK Februari 2016.
“Karena itu, inflasi year on year akan merangkak lagi bulan ini. Kami menetapkan kembali prediksi inflasi sepanjang 2016 sebesar 5 persen,” katanya.
“Kami memprediksi pemangkasan BI rate 25bps menjadi 7 persen akan terjadi pada Maret 2016 atau April 2016 ketika pemerintah menurunkan lagi harga BBM dan volatilitas rupiah masih tetap terjaga,” ungkapnya.
Setelah itu, ia menilai BI rate tidak berubah lagi hingga akhir 2016. Menurutnya, rupiah masih bertahan selama ini, dan sepanjang Januari 2016 rupiah terapresiasi 0,1 persen. Hal itu dinilai kurang lebih sejalan dengan mata uang regional. (gir/gen)