Direktur Departemen Komunikasi BI Arbonas Hutabarat menjelaskan, penurunan cadev tersebut disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah, termasuk pembayaran pokok dan bunga global bond yang jatuh tempo.
“Posisi cadangan devisa per akhir Januari 2016 tersebut, lanjutnya, masih cukup untuk membiayai 7,5 bulan impor atau 7,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor,” kata Arbonas, dikutip Kamis (11/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada akhir tahun lalu, BI berhasil mencatat peningkatan jumlah cadev sebesar US$5,7 miliar. Tambahan tersebut menjadikan cadev sampai akhir tahun lalu sebesar US$105,9 miliar, meningkat signifikan dari posisi akhir November 2015 US$100,2 miliar.
Sebagai informasi, pemerintah telah menerbitkan global bonds senilai US$3,5 miliar pada awal Desember lalu dalam rangka membiayai kebutuhan pembiayaan di awal tahun 2016 (prefunding). Tercatat total utang yang telah ditarik selama akhir tahun dalam rangka prefunding mencapai Rp63,48 triliun.