Sepanjang 2015, NPI hanya berhasil mencetak surplus selama dua kartal yakni pada kuartal I dan IV dengan nilai surplus masing-masing US$1,3 miliar dan US$5,1 miliar.
Defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) selama 2015 juga tercatat sebesar US$17,76 miliar atau 2,06 persen dari Produk Dometik Bruto (PDB). Defisit tersebut menurun jika dibandingkan defisit 2014 yang mencapai US$27,49 miliar atau 3,09 persen dari PDB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Di sisi lain, defisit neraca perdagangan migas menyusut seiring turunnya volume impor minyak dan harga minyak mentah dunia,” ujar Direktur Komunikasi BI Arbonas Hutabarat dalam rilisnya, Jumat (12/2).
“Perbaikan tersebut disebabkan penurunan impor yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan ekspornya, serta perbaikan kinerja neraca jasa dan neraca pendapatan,” ujarnya.
BI meyakini kinerja NPI akan semakin baik didukung bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, khususnya dalam mendorong percepatan reformasi struktural.
“Ke depan, BI akan terus mewaspadai perkembangan global, khususnya risiko terkait perlambatan ekonomi Tiongkok dan terus menurunnya harga komoditas, yang dapat memengaruhi kinerja neraca pembayaran secara keseluruhan,” jelasnya. (gen)