"Ini mau diujicoba dulu. Kalau sudah roll out baru diterapkan," ujar Vice President Fuel Retail Pertamina Muhammad Iskandar di Jakarta, Rabu (17/2).
Iskandar mengungkapkan alasan perseroan menerapkan mekanisme tersebut dalam penjualan produk BBM adalah untuk mengoptimalkan bisnis perseroan di sektor hilir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara keuntungan yang bakal dinikmati para pemilik SPBU menurutnya adalah mendapatkan kepastian pasokan BBM untuk SPBU yang dioperasikannya sekaligus mendapat keuntungan tambahan dari setiap liter penjualan BBM dengan mekanisme konsinyasi.
Terkait mekanisme konsinyasi, Iskandar bilang sejatinya penerapan mekanisme ini tidak akan mengalami hambatan yang berarti seperti halnya ketika membangun fasilitas SPBU baru.
Sebab kata dia, untuk menerapkan mekanisme konsinyasi para pengusaha sudah tidak perlu lagi melakukan banyak modifikasi pada setiap fasilitas SPBU yang dimiliki, begitu pun menambah lahan dalam rangka meningkatkan volume tangki penyimpanan.
"Monitoring-nya ya pakai RFID (Radio Frequency Identificator) yang sudah terpasang di SPBU. Itu best practice internasional. Jadi harus ke sana arahnya," ucap Iskandar.
Menanggapi rencana ini, Ketua Dewan Pimpinan Daerah III Hiswana Migas Juan Tarigan menyambut baik rencana penerapan konsinyasi di dalam penjualan BBM.
Juan mengatakan untuk segera merealisasikan rencana tersebut pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan Pertamina dalam rangka memenuhi persyaratan atas standarisasi SPBU.
"Memang itu ada tahapan, dari sisi SPBU juga mempersiapkan sarana prasarananya, apakah itu ATG, sistem standar operasional prosedur begitu. Nah ini memang sedang dibahas baik internal Pertamina, kami tunggu seperti apa," katanya. (gen)