Masalahnya, program yang sedianya bakal diterapkan pada awal 2016 itu masih mengalami beberapa kendala seperti belum meratanya pemasangan perangkat card reader di tingkat pangkalan, hingga banyaknya outlet penjual elpiji 3 kg di masyarakat.
"Kalau dari hasil pilot project layak, ya dilakukan segera. Tapi kan (ini) belum tentu. Kita lihat nanti kemungkinannya," ujar Direktur Pembinaan Hilir Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat dihubungi, Kamis (18/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelaksanaan uji coba tersebut sempat molor lantaran awalnya ditargetkan dapat dilakukan di Juni 2015.
Berangkat dari kendala ini, Iskandar mengakui bahwa program distribusi tertutup untuk gas bersubsidi tersebut akan dievaluasi ulang.
"Dari hasil evaluasi ada kendala. Jadi tidak mudah satu oulet itu dikasih satu card reader itu tidak mudah. Nah sekarang ada berapa juta outlet. Bayangin aja sekarang warung rokok aja jual LPG 3 kg," tutur Iskandar.
Asal tahu saja, dengan total alokasi subsidi elpiji 3 kg yang mencapai Rp26 triliun tahun ini maka setiap kepala keluarga (KK) dan usaha mikro (UKM) bisa mendapat subsidi sekitar Rp42 ribu sampai Rp45 ribu per tahun.
"Ada model yang akan disempurnakan lebih dulu. Nanti kalau untuk yang ke masyarakat sedang kita pikirkan. Kita sama-sama pemerintah masih intens," imbuh Iskandar. (gir)