“Industri perbankan melihat bahwa tujuan untuk ini kan supaya kita jadi kompetitif ke market. Saya sendiri merasa, secara bertahap memang bunga harusnya di Indonesia itu bisa turun. Cuma kan turunnya (NIM) harus dibikin sistematis kan,” tutur Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin saat ditemui di Menara Mandiri, Jakarta, Senin (22/2).
Selain memberikan insentif perbankan, lanjut Budi, pemerintah juga perlu menurunkan suku bunga bebas risiko (risk-free rate) agar pasar keuangan Indonesia lebih kompetitif, misalnya suku bunga Surat Utang Negara (SUN) bertempo 10 tahun. Risk-free rate, lanjut Budi, menggambarkan biaya dana (cost of fund) suatu negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Budi mengungkapkan, NIM mencakup keuntungan dan biaya kredit. Selama dua tahun terakhir, menurutnya biaya kredit bank tinggi karena banyaknya kredit macet. Oleh karenanya, bank yang bisa menurunkan NIM-nya adalah bank yang bisa mengelola risiko dan portofolionya dengan baik.
Selain itu, otoritas moneter juga perlu menjaga likuditas agar tidak ada tekanan perebutan dana di pasar keuangan perbankan. Oleh karenanya, Budi memuji langkah Bank Indonesia (BI) yang menurunkan suku bunga acuannya (BI rate) menjadi 7 persen dengan diikuti penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) primer dalam rupiah sebesar 1 persen menjadi 6,5 persen pada 18 Februari 2016 lalu.
“BI itu juga benar sekali. Kalau kita menurunkan bunga tapi enggak menjaga likuditas, berarti pressure untuk rebutan dana itu keluar lagi,” ujarnya.
“Jadi kami ingin margin perbankan nasional bisa comparable dengan negara Asean lain. Arahnya akan melihat apa yang ada di Thailand. Kalau Thailand margin 3-4 persen, kita dalam 1-2 tahun akan menuju margin ke arah sana,” kata Muliaman. (gir)