Menurut Faisal, kebijakan itu merupakan puncak dari kompetisi suku bunga untuk mendapatkan dana segar di pasar keuangan.
Ia menilai, selama ini banyak bank yang menawarkan suku bunga deposito tinggi karena juga untuk bersaing dengan obligasi yang diterbitkan pemerintah. Sebagai perbandingan, ia mencontohkan, rata-rata suku bunga deposito perbankan saat ini berada di level 7 persen atau lebih rendah dari imbal hasil (yield) obligasi negara bertenor 10 tahun yang sebesar 8 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas ini menuturkan, pemerintah sebaiknya segera memperbaiki manajemen fiskal agar bunga utangnya juga turun. Sama halnya dengan BI Rate, turunnya bunga utang pemerintah pasti menyeret jatuh berbagai bunga sehingga menggairahkan ekonomi.
"Kalau di luar negeri bank efisien karena bank-banknya besar, sudah terjadi konsolidasi perbankan. Di Malaysia, tadinya 38 bank sekarang 13 bank, di Indonesia masih ratusan. Tidak dilaksanakan namanya arsitektur perbankan Indonesia," ujarnya.
(ags)