Kerjasama Kredit Modal Kerja tersebut mencakup pinjaman dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk sebesar Rp2 triliun dan US$30 juta. Kemudian dari PT Bank Mandiri Tbk sebesar Rp1 triliun serta PT Bank Negara Indonesia Tbk sebesar US$100 juta.
Fasilitas kredit modal kerja tersebut dapat digunakan dalam instrumen Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN), Letter of Credit (LC) Sight/Usance/ Usance Payable at Sight (UPAS), Standby Letter of Credit (SBLC), dan Cash Loan, untuk mendukung kebutuhan pembiayaan modal kerja perusahaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Khususnya dalam pengelolaan modal kerja melalui fasiliitas pembiayaan kebutuhan bahan bakar armada, perawatan armada dan kebutuhan modal kerja lainnya,” ujarnya di gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jakarta, Kamis (25/2).
“Bunganya sama semua, 8,5 persen dengan tempo setahun,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Menteri BUMN Rini Soemarno pada kesempatan tersebut menyambut baik dilaksanakannya sinergi perusahaan pelat merah antara Garuda Indonesia, BNI, dan Bank Mandiri. Sinergi BUMN tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat terbaik untuk BUMN dan negara, sekaligus mendukung visi strategis BUMN sebagai pilar ekonomi negara.
Utang Melonjak
Hingga akhir 2015, utang bank jangka pendek Garuda Indonesia melonjak 219 persen menjadi US$240,8 juta, dari tahun sebelumnya US$75,31 juta. Sementara pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam setahun turun 61 persen menjadi US$140,43 juta, dari tahun sebelumnya US$368,94 juta.
Lebih lanjut, total liabilitas jangka pendek Garuda Indonesia per akhir 2015 tetap di level US$1,19 miliar, turun tipis dari US$1,21 miliar pada 2014. Sementara, ekuitas Garuda Indonesia naik tipis menjadi US$950,72 juta dari sebelumnya US$876,94 juta. Adapun, total seluruh aset Garuda Indonesia mencapai US$3,31 miliar, meningkat 6,43 persen dari aset pada tahun 2014 yaitu US$3,11 miliar. (gen)