Hal ini dilakukan menyusul rencana pemerintah mengupayakan keberadaan cadangan penyangga (buffer stock) dan cadangan strategis minyak (strategic petroleum reserve/SPR) seiring dengan murahnya harga minyak mentah dunia.
"Kami sedang diskusi dengan negara supplier, juga dengan negara-negara produsen yang mungkin punya tangki yang bisa kita pinjam. Target kita kan 30 hari atau sekitar 45 juta barel. Itu campur, ada crude dan produk," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), IGN Wiratmaja Puja di Jakarta, Senin (29/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya fasilitas milik badan usaha milik negara (BUMN), ia mengaku pemerintah juga tengah membuka wacana untuk menyewa tangki-tangki yang dimiliki oleh kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) dan badan usaha swasta.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai kejatuhan harga minyak mentah dunia seharusnya bisa dimanfaatkan oleh Indonesia untuk menimbun persediaan emas hitam.
Untuk itu, ia menginstruksikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT Pertamina (Persero) untuk segera memborong minyak mentah di saat harganya sedang murah.
"Sekarang waktu minyak harganya jatuh murah seperti ini, mestinya dipikirkan, baik BUMN Pertamina dan Kementerian (ESDM), bagaimana bisa membeli, membuat stok sebanyak-banyaknya," ujar Jokowi.
Saat ini, cadangan BBM nasional sendiri masih mengacu pada posisi cadangan minyak operasional milik PT Pertamina (Persero) yang berada di kisaran 18 hari hingga 22 hari.
Di mana penggunaan DKE juga dimaksudkan dalam rangka meningkatkan porsi pemanfaatan energi baru terbarukan dan menstabilkan harga BBM yang dilego di masyarakat.
"Tadi Menkeu sudah memberi lampu hijau akan ada dana dari APBN," tandas Wiratmaja.