Pemkab Simeulue Aceh Mulai Bidik Pasar Ikan China

Galih Gumelar , CNN Indonesia | Selasa, 08/03/2016 14:45 WIB
Pemkab Simeulue Aceh Mulai Bidik Pasar Ikan China Warga yang basah kuyup sehabis menyebur kelaut untuk berusaha mengambil Nadran. ( CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simeulue, Provinsi Aceh siap membuka pasar baru terkait kegiatan ekspor perikanan yang dihasilkan dari teritorinya.

Hal ini akan dilakukan setelah Pemkab Simeulue menyelesaikan penambahan panjang landasan pacu Bandara Lasikin, di Sinabang yang pembangunannya dimulai tahun depan.

Wakil Bupati Simeulue, Hasrul Edyar mengungkapkan landasan pacu Bandara Lasikin sendiri ditargetkan akan memiliki panjang 2 kilometer (KM), atau meningkat 42,8 persen dari panjang saat ini yang hanya mencapai 1,4 km.

Di mana Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sendiri, ungkap Hasrul telah menyetujui ihwal anggaran yang dipakai untuk perpanjangan landasan pacu dan akan dimasukkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2017.

"Kami dengar Kemenhub sudah setuju untuk menganggarkan Rp 100 miliar untuk proyek ini. Perpanjangan landasan pacu ini berguna untuk menyalurkan hasil perikanan kami ke luar negeri," terangnya di Jakarta, Selasa (8/3).

Hasrul menjelaskan, esensi penambahan panjang landasan pacu Bandara Lasikin akan berguna demi menampung pesawat-pesawat besar yang singgah ke pulau yang berada di sisi barat Sumatera.

Dengan demikian, maka daya tampung logistik barang masuk dan keluar akan lebih banyak dibanding kapasitasnya saat ini yang hanya bisa menampung pesawat berjarak pendek (ATR) dan menghambat pertumbuhan ekonomi daerah.

"Mereka kebanyakan mau mengimpor barang kami kalau diangkut dengan armada yang juga bagus. Kalau dengan landasan pacu saat ini kan pesawatnya juga kecil, menurut mereka kurang safety," tambahnya.
Tingkatkan Ekspor ke China

Terkait rencana perpanjangan landasan pacu Bandara Lasikini, Hasrul meyakini rencana ini bakal meningkatkan pasar perikanan daerahnya ke China.

Sebab, kata dia negara tirai bambu tersebut diproyeksikan akan menjadi mitra dagang internasional keempat Kabupaten Simeulue setelah Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Di mana kawasan Simeulue sendiri akan mengekspor ikan kerapu, teripang, gurita serta lobster dengan wilayah tujuan Beijing dan Hongkong.

Namun, diantara seluruh hasil perikanan tersebut Hasrul cukup terkejut setelah tahu China ingin mengimpor gurita dalam jumlah yang besar dari pulau itu.

"Kami sangka gurita Simeulue hanya laku di pasaran domestik, namun ternyata juga diminati di China. Mereka bilang, gurita Simeulue itu khas dan cocok dijadikan bahan obat serta kosmetik. Katanya, gurita punya zat-zat khusus yang bisa menambah kebugaran," terangnya.

Kendati demikian, ia mengatakan realisasi ekspor ke China tak akan terjadi dalam waktu dekat.

"Karena kan menunggu rampungnya perpanjangan landasan pacu bandara. Tapi beberapa waktu yang lalu Pemda kami sudah diundang langsung ke China dan beberapa perusahaan di sana mengatakan minat dengan hasil perikanan kami," imbuh Hasrul.

Menurut Hasrul, saat ini produksi gurita di pulau Simeulue mencapai 480 ton per tahun atau 3,33 persen dari total produksi perikanan tangkap wilayahnya sebanyak 14.400 ton per tahun atau rata-rata 40 ton per hari. Secara rata-rata, gurita asal Simeulue dibanderol sebesar Rp 38 ribu per kilogram.