Dzulfian S, Ekonom Indef, menilai derasnya aliran modal masuk ke dalam negeri belakangan ini menunjukkan kondisi investasi yang berkebalikan dengan kondisi beberapa tahun terakhir. Apabila di era sebelumnya investasi di Tanah Air dibayangi oleh ancaman pelarian modal (capital outflow), maka saat ini justru sebaliknya di mana modal yang masuk (capital inflow) cukup agresif.
Kandidat doktor di Universitas Durham, Inggris ini mengatakan, setidaknya ada dua hal utama yang memicu penanaman modal asing di Indonesia. Pertama, kepastian kenaikan suku bunga the Fed (Fed Fund Rate/FFR) beberapa bulan lalu membuat pasar-pasar keuangan di dunia, termasuk Indonesia menjadi lebih stabil dan pasti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi itu tergambar dari pernyataan Bank Indonesia (BI) beberapa hari lalu, yang menyebutkan bahwa terjadi kenaikan Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang lebih besar dari Aset Finansial Luar Negeri (AFLN).
"Apa yang dilakukan oleh 'Lapangan Banteng' (Kementerian Keuangan) dan 'Thamrin' (Bank Indonesia) sejauh ini tidak sinkron, ditunjukkan oleh masih tingginya imbal hasil yang ditawarkan oleh obligasi Pemerintah," katanya.
"Seharusnya obligasi pemerintah dapat turun perlahan sebagaimana BI rate, misalkan untuk tenor 10 tahun bisa turun perlahan ke level 7,0-7,5 persen, bahkan bisa lebih rendah lagi jika Pemerintah mampu meyakinkan dan meningkatkan kepercayaan investor," jelasnya.
Apabila pemerintah tidak segera menurunkan imbal hasil obligasinya, tambah Dzulfian, dikhawatirkan justru akan terjadi kekeringan likuiditas di pasar keuangan domestik karena bank-bank harus berkompetisi dengan obligasi pemerintah. Hal ini justru akan kontraproduktif bagi perekonomian nasional, di mana kebijakan moneter ekspansif yang telah dilakukan oleh BI tidak akan efektif. (ama)