Seperti dikutip dari Reuters, hasil pertemuan terbaru bank sentral AS, Federal Reserve mengindikasikan tidak ada kenaikan suku bunga pada bulan April. Hal itu melemahkan mata uangnya, membuat minyak dalam denominasi dolar AS lebih menarik bagi mereka yang memegang euro dan mata uang lainnya.
Setelah mencapai posisi terendah satu bulan sehari sebelumnya, harga minyak menguat sebanyak US$2 per barel setelah Energy Information Administration (EIA) menyatakan stok minyak mentah turun 4,9 juta barel pekan lalu dari impor yang lebih rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis yang disurvei oleh Reuters menduga persediaan minyak mencapai rekor tertinggi, namun tidak berturut hingga minggu kedelapan, sebesar 3,2 juta barel.
Harga minyak mentah berjangka AS juga memperoleh dukungan tambahan dari TransCanada Corp yang tertunda menyalurkan 590.000 barel per hari dari pipa Keystone ke stok minyak mentah di Cushing dan Illinois.
Harga minyak Brent juga didukung oleh pekerjaan pemeliharaan yang direncanakan di Perusahaan Norwegia, Ekofisk dan ladang minyak Inggris Buzzard.
Reli penguatan minyak pada Rabu tersebut mengisyaratkan pergeseran sentimen setelah penurunan pekan lalu hingga 7 persen di harga minyak AS berjangka dan 4 persen untuk minyak Brent. Hal itu terjadi di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan global dalam minyak mentah yang tumbuh lagi setelah rencana negara-negara produsen untuk membekukan produksi gagal. (gir)