Tidak cuma itu, realisasi NPL industri BPR pada dua bulan pertama tahun ini juga mencerminkan memburuknya kualitas kredit dan jauh di atas ambang yang diperkenankan Bank Indonesia, yaitu 5 persen.
"Tidak bisa kami pungkiri, rasio kredit macet memang meningkat. Namun, ini hal yang wajar karena NPL saat ini jangka pendek. Bulan Februari relatif lebih pendek dibandingkan bulan lainnya dan ada libur, sehingga mempengaruhi kerja collection," ujar Joko Suyanto, Ketua Umum Perhimpunan BPR Indonesia (Perbarindo) kepada CNNIndonesia.com, Jumat (8/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, ekspansi kredit yang disalurkan BPR tidak sekencang tahun-tahun sebelumnya. BPR cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit baru. Terbukti dengan pertumbuhan kredit yang tercatat single digit. Per Februari 2016, pertumbuhan kredit BPR cuma naik 8,69 persen menjadi Rp75,4 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"NPL memang masih menjadi isu di industri BPR. Namun, itu pun karena BPR banyak bermain di segmen UMKM yang notabene risiko kreditnya tinggi. Tetapi, sebetulnya, tidak semua BPR punya NPL tinggi. Ada juga BPR yang dapat menjaga rasio NPL mereka di bawah satu persen, meskipun ada juga yang menyentuh 10 persen," terang Joko.
Strateginya, yakni menjaga pertumbuhan kredit dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan konsentrasi membenahi kredit bermasalah. "Dua tahun terakhir, kami fokus membenahi NPL. Kami membentuk tim remedial collection untuk restrukturisasi dan lelang kredit macet. Karenanya, tidak terlalu getol dalam ekspansi kredit," kata Hiras L Tobing, Direktur BPR Bekasi Binatanjung Makmur. (gen)