Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengatakan, guna meningkatkan ekspor kopi Indonesia ke luar negeri pemerintah akan berupaya membenahi strategi promosi dengan lebih mengedepankan dan memperkenalkan Indonesia sebagai salah penghasil kopi kualitas tinggi di dunia.
"Kami memang mencoba untuk membenahi 'branding' dan 'marketing' kopi Indonesia. Berdasarkan pengamatan Kementerian Perdagangan, kopi kita biasanya dipasarkan sebagai kopi Sumatera, Sulawesi, Toraja, Bali dan lainnya, namun tidak ada Indonesia-nya," kata Thomas di Jakarta, Jumat (8/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini dimaksudkan agar popularitas kopi Indonesia bisa kian tenar di pasar kopi dunia.
Sebagaimana diketahui, tahun lalu ekspor kopi Indonesia ke pasar dunia menembus angka US$1,19 miliar atau mengalami pertumbuhan sebesar 15 persen dari tahun sebelumnya.
Dari nilai tersebut, Amerika masih tetap menduduki peringkat pertama negara tujuan ekspor kopi Indonesia dengan nilai US$281,15 juta dengan pangsa pasar mencapai 23,47 persen.
"Ekspor kopi kita meningkat disaat ekspor nonmigas mengalami penurunan sebesar 14 persen. Namun memang haru lebih diorganisir dengan baik, meliputi marketing, branding, dan promosi. Saya kira keikutsertaan Indonesia pada SCAA adalah salah satu upaya penting untuk memperbaiki branding kita di pasar internasional," tutur Thomas.
Berdasarkan data yang dilansir UN Comtrade pada 2014, Amerika Serikat merupakan negara importir kopi terbesar kedua di dunia dengan nilai US$5,88 miliar, atau setara 19,10 persen dari total impor dunia. Nilai tersebut meningkat 10,48 persen dibanding tahun sebelumnya.
Dari nilai tersebut, sebesar 81,23 persen merupakan kopi biji tidak digongseng, sementara 10,15 persen merupakan biji kopi digongseng, dan 7,66 persen kopi biji tidak digongseng tanpa kafein. (dim)