Kepala Riset Daewoo Securities Taye Shim mengatakan perubahan itulah yang pemerintah Indonesia inginkan untuk mendorong pergerakan pasar. Shim menilai fixed overnight rate tidak mencerminkan keadaan pasar yang sebenarnya. Sementara, reverse repo lebih sensitif dengan pergerakan pasar.
Hal itu, lanjutnya, bakal mendongkrak kinerja bank yang berfokus terhadap penyaluran kredit korporasi. Pasalnya, Shim menilai jika perubahan acuan terjadi, maka roda perekonomian bakal lebih digerakkan oleh korporasi atau sektor swasta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis Deutsche Bank Raymod Kosasih mengatakan rencana penerbitan intrumen baru tersebut sesuai dengan perkiraannya, yang menyatakan akan adanya acuan baru yang lebih relevan dengan kondisi pasar serta rencana penurunan cadangan primer lanjutan, dari 6,5 persen menjadi 5 persen.
Raymond juga menyatakan, akan terjadi penurunan tingkat kredit macet (Non Performing Loan/NPL) yang membuat biaya kredit bakal melemah atau flat dan akan mengimbangi NIM yang lebih rendah.
“Mencapai suku bunga kredit satu digit akan memakan waktu; tapi, bank-bank besar berada di posisi yang baik untuk "mengakomodasi" perubahan ini & dengan demikian memiliki visibilitas pendapatan yang lebih besar,” jelasnya.
Pada Jumat (15/4) esok, bank sentral Indonesia rencananya akan mengumumkan instrumen kebijakan moneter baru. Meskipun belum diketahui pasti kebijakan yang akan ditempuh oleh BI.
Reverse repurchase atau dikenal repo itu sendiri merupakan transaksi penjualan surat utang negara dari BI kepada perbankan dengan syarat akan dibeli kembali oleh BI pada jangka waktu tertentu. Tingkat bunga acuan Repo saat ini berada di kisaran 5,75 persen. Sedangkan, BI rate saat ini bertengger pada posisi 6,75 persen.
(gen)